lyfe and reviews

Terapi : Penanganan Trauma dan Pelukan Kupu-kupu


Weekend yang padat. Bukan karena menghadiri kampanye. Tapi karena ada hal-hal yang menjadi fokus perhatian. Salah satunya mengikuti training untuk meningkatkan kemampuan serta kompetensi. 


Training yang saya ikuti beberapa waktu lalu adalah tentang penanganan trauma-trauma, titik beratnya pada korban-korban bencana alam. Walau begitu pengetahuan ini pada dasarnya bisa digunakan untuk penanganan kasus trauma lainnya, lho ya.


Banyak hadir peserta yang berlatar belakang ilmu psikologi. Terutama yang ingin mendapatkan pengalaman baru dalam penanganan trauma (mendapat kredit) serta sharing sudut pandang langsung di lapangan selama ini.


Awalnya saya berpikir akan sulit mengikuti materinya dan agak grogi karena banyak peserta yang jauh lebih berpengalaman.  Untung pada prakteknya tidak terlalu (psst ada sih sedikiit, hahaha), karena kita semua disini merasa sama-sama belajar. 


Tools penyembuhan yang diberikan, kebetulan beberapa sudah pernah saya pelajari juga dan terapkan (EFT, hipnosis, empty chair, dsb). Walaupun ada juga hal-hal baru, seperti "butterfly hug".




Metode pelukan kupu-kupu ini mudah dilakukan dan bisa sangat menenangkan. Anak-anak di tempat bencana, yang mungkin akan merasa "kehilangan" perhatian dan kehangatan saat relawan pergi, bisa diajarkan melakukan tehnik ini. Anda juga bisa mempraktekkannya bila suatu saat merasakan ada ketegangan atau stress.


Saya senang bisa mengikuti kembali metode-metode yang ada. Setidaknya jadi penguatan kembali dan memenuhi yang selama ini saya anggap masih kurang, terutama di bagian quesioner-quesioner (duh, saya perlu banget kayaknya lebih serius soal ini meringis).


Banyak fakta-fakta yang baru saya ketahui pasca pelatihan tersebut, yaitu :


  • Pada hari-hari pertama hingga h+7 kejadian bencana sebetulnya yang dibutuhkan lebih banyak pemenuhan kebutuhan fisik ketimbang psikis.

  • Relawan banyak mengalami trauma pasca terjadinya bencana alam. Karena mereka tidak "siap", belum terkondisikan dengan baik saat diterjunkan kesana, terutama secara psikis. Padahal yang dihadapi adalah kondisi tidak menentu (misal, soal makanan, transportasi, tempat tinggal, berurusan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, dsb).

  • Para penyintas (korban selamat), sebaliknya, lebih cepat melewati masa trauma karena faktor kebersamaan dengan yang lain. Sehingga yang tepat adalah manajemen resiko serta fokus pemulihan satu daerah untuk jangka panjang.

  • Prioritas utama terapis adalah bagaimana agar penyintas dipersiapkan untuk mandiri tidak berlama-lama dalam kondisi "freeze" atau ketergantungan. Aktivitas rutin penting dihadirkan agar otak aktif kembali.

  • Kondisi trauma itu tidak selalu langsung terjadi, bisa terdeteksi setelah jangka waktu lama bahkan ada yang sampai 40 tahun lebih baru nampak.

  • Trauma yang lebih sulit justru disebabkan oleh faktor manusia, bukan alam.

Dan yang paling menarik adalah tentang pemahaman arti trauma sendiri orang-orang malah terkadang mudah main klaim saja dengan muka lempeng..


Muka lempeng. Sumber : giphy.com


"Gua trauma nih gara-gara XXXX."


{{Apakah mungkin seseorang yang alami trauma bisa berkata demikian? Mungkin, tapi sekarang sudah sembuh}}


Di kasus trauma sebenarnya, jangankan menyebut... mendengar/melihat/membayangkan namanya saja sudah nggak mau kali ya. Menghindar terus. Bahkan sampai bertindak tidak masuk di akal.


Untuk mengetahui itu tentu saja perlu pengamatan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan menghasilkan skor untuk memperjelas apakah suatu kejadian masuk kategori PTSD (post traumatic stress disorder)-gangguan stress pasca trauma.


Intinya, saya puas dan senang dengan berbagai pemahaman serta keterampilan baru ini. Moga-moga bisa semakin banyak pengalaman yang tentunya berguna bagi diri saya sendiri dan orang lain. Serta makin banyak orang yang tertarik memiliki kompetensi ini.


Anyway, balik ke masa kini, yess...saya berharap pasca pemilu ini semua berjalan dengan lancar. Tidak ada hal-hal yang disengaja demi memicu ingatan serta trauma masa lalu... untuk kepentingan apapun. Apalagi karena pemilu banyak pesertanya yang beresiko tinggi terkena PTES (post traumatic election syndrome) atau post-election stress syndrome (sindrom stress pasca pemilu- tapi yang beneran stress ya). Wajar bila muncul letupan emosi membuncah atau keinginan menyendiri. Normalnya, sih, makin hari makin berkurang. Bila tidak, sebaiknya segera menghubungi ahli.


Bagaimanapun bentuk ingatan yang muncul, KITA yang memiliki kontrol penuh atas hadirnya kesadaran, tindakan, dan perbuatan yang akan keluar dari diri sendiri.


Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar kata trauma?


*Artikel ini adalah re-post dari tulisan sebelumnya yang telah diperbaiki. Gambar fitur diambil dari pexel.com.


No comments:

Post a Comment