lyfe and reviews

Review Film : Inside Out


Kemarin aku rewatch film Disney favorit aku, Inside Out. A really nice film. Superb kalau aku bilang. Karena bisa menjelaskan tentang emosi kepada audience anak kecil dengan gampang.


Saking sukanya, aku punya boneka-boneka Inside Out lengkap, loh. πŸ˜€ Ada Joy, Sadness, Anger, Fear, Disgust dsb. Tujuannya bisa jadi alat komunikasi saat main dengan children. Kamu hari ini merasa apa?


Dan aku takjub karena awalnya kita seakan digiring untuk simpati dengan tokoh Joy. Bagaimana nggak, dia selalu ceria dan menghidupkan suasana. Siapa yang nggak tertarik dengan karakter seperti itu? πŸ˜€ Always happy.


Kita juga anggap Sadness itu annoying dengan "sabotase" kontrolnya. Membuat masalah, selalu gloomy dan sebagainya. Ibarat antagonis. Tokoh lain, yang bak figuran saja, nggak se-annoying Sadness. Masih kelihatan gunanya.


Di akhir cerita baru semua ngerti kegunaan Sadness, yang nggak kalah penting dari Joy.


Looking back, bagaimanapun aku suka Joy, tetap merasa dia tokoh yang terlalu dreamy, di awang-awang.


Too good to be true.


Kita manusia tentu tidak setiap kali happy yappy bukan? Ada saatnya bergumul dengan kemarahan, ketakutan, jijik, dan kesedihan.


Aku ingat perkataan salah seorang mentor, bahwa seorang manusia akan selalu menyimpan ingatan (dan penglihatan) baik dan buruk sepanjang hidupnya. Nggak kayak memory card, bisa di erase atau format ulang.



Dengan kata lain, kita hidup dengan segala pahit manis ingatan for the rest of our life.


Intinya, satu-satunya cara agar Sadness (dan emosi negatif lain) tidak mengganggu kehidupan kita adalah, ya berdamai dengannya. Yaitu dengan mengakui dulu bahwa mereka ada.


Tapi banyak sekali orang yang memilih hidup seperti itu... suppress the emotion to the max. Sampai pada satu titik tidak kuat lagi dan meledak. Pemantiknya cukup sebuah stimulus/simbol.


Yang sulit ekspresif dengan emosi bisa jadi karena sejak kecil dididik demikian, menekan emosi. Belum lagi (untuk cowok) ada tekanan untuk tegar. Mengenal emosi diri sendiri saja susahnya setengah mati. Apalagi mendeteksi itu pada orang lain.


Untungnya, manusia bisa jadi apapun yang dia mau, asal punya niat dan usaha. Begitu juga soal belajar mengungkapkan emosi. Bisa dilatih tiap hari.


Mungkin itu sebabnya, orang-orang yang berusia panjang selain karena keunggulan genetik, itu tipikal yang woles atau ya sudahlah. Jarang kena sakit aneh-aneh. Melihat itu dari contoh para orang tua di desa-desa. Nggak pernah, yang aku lihat, usia sudah hampir 100 tahun tapi bawaan masih grumpy, ngerusuh, atau suka ngamuk-ngamuk.πŸ™„


Aku sangat memahami ada yang kesusahan untuk menghapus rasa kesal, dendam dan amarah. Memang nggak gampang, kok. πŸ˜‘Tapi kalau itu nggak dihapuskan, itu ibarat kita bawa clurit orang kemana-mana (aku sudah pernah cerita belum ya soal clurit/hook ini?). Udah sakit nggak sembuh-sembuh pula.😐 Nikmat, lho mulai dari awal dengan diri yang fresh bebas dari clurit-clurit nan menyebalkan..πŸ˜‚


Sadness mungkin bukan tokoh/perasaan menyenangkan seperti si Joy. Tetap harus di akui serta dibutuhkan. Begitupula Anger, Fear, dan Disgust.


Dan menurutku, saat kita mengakui pernah mengalami semua itu serta melaluinya...that's makes us human.


Menurut kamu?

No comments:

Post a Comment